MANFAAT TEORI PSIKOLOGI, DALAM MENGEMBANGAKAN TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. LATAR BELAKANG

Cepatnya pekembangan ilmu pengetahuan, seakan terus mengingatkan kita untuk terus memacu diri untuk mendapatkan pengetahuan. Berkembangnya ilmu pengetahuan kini malah lebih cepat dari apa yang dibayangkan manusian. Hal hal yang dirasa tidak mungkin, kini malah tercipta, malah puluhan tahun lalu manusia telah berhasil menginjakan kaki ke bulan.

Setiap harinya pengetahuan baru bermunculan, dengan teori-teori yang terus dikembangan, begitu juga dengan teori belajar, yang mulai dikembangan sebelum abat 20 oleh plato, yang dikenal dengan teori disiplin mental, dimana dalam belajar mental seseorang harus dilatih sebelumnya. 

Dalam satu abad terakir, teori belajar berkembang pesat, mulai dar, teori belajar aliran behaviorisme, dengan tokonya skinner “operant conditioning”, teori belajar conditining of learning, robert m. Gagne, hingga teori beljar kognitif gestal  dimana menurut teori ini yang utama pada kehisupan manusia adalah knowing pengetauan/ bukan respon seperti teori behaviorisme.

Secara luas teori belajar selalu dikaitkan dengan ruang lingkup bidang psikologi,  karna bicara mengenai belajar kita akan menkaji tentang sosok manusia. Karna manusia memiliki akal untuk berfikir, berbeda degan binatang yang hanya bisa diberi pelajaran tetapi tidak menggunakan akal budi dan pikiranya. Ivan Petrovich Pavlov, ahli psikologi Rusia berpengalaman dalam melakukan serangkaian percobaan. Dalam percobaan itu ia melatih anjingnya untuk mengeluarkan air liur karena stimulus yang dikaitkan dengan makanan.  Proses belajar ini terdiri atas pembentukan asosiasi (pembentukan hubungan antara gagasan, ingatan atau kegiatan pancaindra) dengan makanan. Proses belajar yang digambarkan seperti itu menurut Pavlov terdiri atas pembentukan asosiasi antara stimulus dan respons refleksif.

Dasar penemuan Pavlov tersebut, menurut J.B. Watson diberi istilah behaviorisme. Proses pembelajaran itu bergerak dengan pandangan secara menyeluruh dari situasi menuju segmen (satuan bahasa yang diabstraksikan dari kesatuan wicara atau teks) bahasa tertentu. Materi yang disajikan mirip dengan metode dengar ucap.

Ada berbagai prinsip belajar yang dikemukan oleh para ahli psikologi seperti Thorndike mengemukakan, pendidikan terjadi dan diikuti dengan keadaan memuaskan maka hubungan itu diperkuat, Spread of effect yaitu emosional yang mengiringi kepuasan itu tidak terbatas kepada sumber utama pemberi kepuasan tetapi kepuasan mendapat pengetahuan baru, law of exercice yaitu hubungan antara perangsang dan reaksi diperkuat dengan latihan dan penguasaan, dan law of primacy yaitu hasil belajar yang diperoleh melalui kesan pertama akan sulit digoyahkan.

Beberapa prinsip atau kaidah dalam proses pembelajaran sebagai hasil eksperimen para ahli psikologi yang berlaku secara yaitu : motivasi, pembentukan, kemajuan dan keberhasilan proses belajar mengajar, feedback, response, trial and error , transfer dalam belajar dapat bersifat positif atau negatif dan proses belajar yang bersifat individual.

Berdasarkan hal tersebut, teori psikologi atau kejiwaan ini mempunyai kontribusi besar terhadap perkembangan teori-teori dari belajar dan pembelajaran.

 

  1. PERUMUSAN MASALAH

Teori psikologi yang banyak mengkajian akan sikap dan tindak tanduk manusia, sangant bermanfaat terhadap perkembangan teori belajar dan pembelajaran.  

Dari rumusan masalah diatas, makalah ini dibatasi oleh aspek-aspek sebagai berikut :

1.      Konsepsi teori psikologi

2.      Konsepsi teori belajar

3.      Implikasi pemanfaatan teori psikologi dalam mengembangkan teori belajar dan pembelajaran.

 

  1. TUJUAN DAN MANFAAT PENYUSUNAN MAKALAH

1.      Agar kita memahamai tentang teori psikologi

2.      Agar kita memahamai tentang teori belajar

3.      Mengetahui manfaat dan implikasi teori psikologi dalam perkembangan teori belajar dan pembelajaran.

Adapun penyusunan makalah ini bermanfaat secara:

a.          Teoretis, untuk mengkaji ilmu pendidikan khususnya dalam memahami manfaat teori psikologi dalam berkembangnya teori belajar dan pembelajaran.

b.      Praktis, bermanfaat bagi

1.      Para pendidik agar pendidik tidak salah persepsi tentang pendidikan, pembelajaran, dan pengajaran, serta dapat menerapkan prinsip-prinsip psokologi dalam melakukan pembelajaran

2.       Mahasiswa agar memahami tentang pengertian, prinsip, dan perkembangan teori psikologi dan teori belajar pembelajaran

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. TEORI PSIKOLOGI
  1.  
    1. Pengertian Psikologi

Secara harfiah psikologi terdiri dari dua suku kata psiko yang berarti jiwa dan logos berarti ilmu. Dapat didefenisikan sebgai ilmu tentang jiwa manusian. Dalam makalah ini penulis lebih mefokuskan pada konsep dan teori psikologi pendidikan. Menurut tadjab, Pendidikan tentang psikolog jiwa dan psikolog pendidikan yang terpendam dalam diri manusia yang akhirnya dapat melahirkan pola berperilaku, gerak dan lain sebagainya. Dengan demikian pergerakan, pertumbuhan dan perkembangan semua itu menjadi petunjuk gejala adanya jiwa pada manusia

Disini para filosof membagi jiwa menjadi

1.      Daya Vegetatif, bersifat tumbuh, berkembang sebagaimana tumbuh-tumbuhan ini disebut “nafs on nabati

2.      Daya Sensoris, ini bagi pemilik penginderaan, berpindah sebagaimana perilaku hewan disebut “nafs al hayawany

3.      Daya Rasional, yang khusus pemilik yang bersifat berfikir, berbuat, berkehendak sebagaimana khusus nampak pada jiwa manusia, dan disebut “nafs al insaniyah”

4.      Daya ruh, bersifat taat, patuh, tunduk, ini menggambarkan sosok malaikat.

Psikologi pendidikan adalah suatu stadi kejiwaan dari bidang pendidikan/studi dari bidang pendidikan yang akhirnya diarahkan untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi proses pendidikan dan pengajaran.

Beranjak dari filusofi jiwa ini sejumlah penelitian tentang gejala gejala prilaku manusia yang berkembang menjadi sebuah teori psikolagi yang banyak diadobsi oleh ilmuan pendidikan.

Jika menelaah literatur psikologi, kita akan menemukan banyak teori belajar yang bersumber dari aliran-aliran psikologi. Dalam tautan di bawah ini akan dikemukakan empat jenis teori belajar, yaitu: teori behaviorisme, teori belajar kognitif menurut Piaget teori pemrosesan informasi dari Gagne, dan teori belajar gestalt.

 

  1. TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

A.    Teori belajar

1.      Konsepsi

Menurut Di vesta dan Thomson (dalam ansyar, 1989, hal. 82) definisi belajar secara umum  adalah perubahan tingkah laku yang relative permanen sebagai hasil pengalaman. Salah satu perubahan tingkah laku dapat dilihat ketika seorang anak memperhatikan tingkah laku yang baru dati tingkah laku sebelumnya pada waktu tertentu. Namun tidak semua perubahan dapat disebut belajar, seperti proses pendewasaan dan perkembangan atau perubahan tingkah laku yang timbul karna faktor alam ( kecelakaan, penyakit).

Menurut Hilgard, Margins dan Kimble (dalam ansyar, 1989, hal. 83) belajar adalah perubahan tingkah laku yang realatif permanen sebagai respon terhadap potensi yang terjadi akibat latihan yang diprogramkan.

Menurut Gagne (dalam ansyar, 1989, hal. 82) adalah perubahan tingkah laku atau perobahan kemampuan manusia yang dapat bertahan dan yang bukan hasil pertumbuhan

2.      Teori behaviorisme

Behaviorisme merupakan salah aliran psikologi yang memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek – aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu.

.

3.      Teori Belajar Kognitif menurut Piaget

Piaget merupakan salah seorang tokoh yang disebut-sebut sebagai pelopor aliran konstruktivisme. Salah satu sumbangan pemikirannya yang banyak digunakan sebagai rujukan untuk memahami perkembangan kognitif individu yaitu teori tentang tahapan perkembangan individu. Menurut Piaget bahwa perkembangan kognitif individu meliputi empat tahap yaitu :

                                                                    i.            Sensory motor

                                                                  ii.            Pre operational

                                                                iii.            Concrete operational dan

                                                                iv.            Formal operational.

4.      Pemrosesan informasi dari Gagne

Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.

Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu,

                                                                                i.            Motivasi

                                                                              ii.            Pemahaman

                                                                            iii.            Pemerolehan

                                                                            iv.            Penyimpanan

                                                                              v.            Ingatan kembali

                                                                            vi.            Generalisasi

                                                                          vii.            Perlakuan dan

                                                                        viii.            Umpan balik

5.      Teori belajar gestalt

Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti sebagai “bentuk atau konfigurasi”. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan. Menurut Koffka dan Kohler, ada tujuh prinsip organisasi yang terpenting yaitu :

                                                              i.            Hubungan bentuk dan latar (figure and gound relationship); yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. Penampilan suatu obyek seperti ukuran, potongan, warna dan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. Bila figure dan latar bersifat samar-samar, maka akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure.

                                                            ii.            Kedekatan (proxmity); bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu.

                                                          iii.            Kesamaan (similarity); bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan dipandang sebagai suatu obyek yang saling memiliki.

                                                          iv.            Arah bersama (common direction); bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu.

                                                            v.            Kesederhanaan (simplicity); bahwa orang cenderung menata bidang pengamatannya bentuk yang sederhana, penampilan reguler dan cenderung membentuk keseluruhan yang baik berdasarkan susunan simetris dan keteraturan; dan

                                                          vi.            Ketertutupan (closure) bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap

B.     TEORI PEMBELAJARAN

1.      Konsepsi

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.

Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia serta dapat berlaku di manapun dan kapanpun.

Pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, walaupun mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar supaya peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat mempengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seseorang peserta didik. Pengajaran memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan guru saja. Sedangkan pembelajaran juga menyiratkan adanya interaksi antara guru dengan peserta didik.

2.      Taksonomi Pembelajaran

Jalan lain untuk melihat pembelajaran adalah mealui pengkarakteran kapabilitas utama untu menjadi pembelajar. Tiga tipe pembelajaran telah di analisa dan di presentasikan diantaranya

a.       Kognitif

                                                                    i.            Pengetahuan (knowledge)

                                                                  ii.            Pemahaman (comprehension)

                                                                iii.            Aplikasi (application)

                                                                iv.            Analisis (Analysis)

                                                                  v.            Sintesis (Synthesis)

                                                                vi.            Evaluasi (Evaluation)

b.      Affektif

                                                                    i.            Penerimaan (Receiving)

                                                                  ii.            Tanggapan (responding)

                                                                iii.            Penghargaan (Valuing)

                                                                iv.            Pengorganisasian (organization)

                                                                  v.            Karakterisasi Berdasarkan Nilai-nilai (Characterization by a Value or Value Complex)

c.       Psikomototorik

                                                                    i.            Gerakan Refleks

                                                                  ii.            Basic Gerakan Pokok

                                                                iii.             Perceptual

                                                                iv.             Aktivitas secara fisik

                                                                  v.             Gerakan trampil

                                                                vi.            Nondiscursive komunikasi

 

C.    IMPLIKASI TEORI PSIKOLOGI DALAM PERKEMBANGAN TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

  1.  
    1. Implikasi toeri behaviorisme

Toeri behaviorisme ini lebih dikenal dengan teori stimulus respon.
Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari pendekatan behaviorisme ini, diantaranya.

                                                                 i.             Connectionism (S-R Bond) menurut Thorndike.

Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya:

a.       Law of Effect; artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan, maka hubungan Stimulus – Respons akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons, maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus- Respons

b.      Law of Readiness; artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit), dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.

c.       Law of Exercise; artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat, jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih.

                                                            ii.      Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov

Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya.

d.      Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.

e.       Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.

                                                          iii.            Operant Conditioning menurut B.F. Skinner

Dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar diantaranya.

b.      Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.

c.       Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.

              Reber (Muhibin Syah, 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning

                                                          iv.            Social Learning menurut Albert Bandura

Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya, Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Prinsip dasar belajar menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Melalui pemberian reward dan punishment, seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan

  1.  
    1. Implikasi teori

Dikemukakannya pula, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.
Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah

1.      Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.

2.      Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.

3.      Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.

4.      Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.

5.      Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya

  1.  
    1. Implikasi Teori

Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain :

1.      Pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa.

2.      Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.

3.      Perilaku bertujuan (pusposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.

4.      Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.

5.      Transfer dalam Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.

 

 

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

1.      Penrkembangan teori belajar dan pembelajaran banyak mmegadaptasi kaidah-kaidah dari falsafah teori psiikologi pendidikan. Meski relative sama, namaun teori yang dikembangan ilmuan pendidikan tersebut dalam peningkatkan kemampuan kognitif, afektif dan psykomotor siswa dalam pengolahan pesan sehingga tearcapai sasaran belajar.

2.      Pendekatan teori psykologi dalam mengembangkan teori belajar dan pembelajaran mencerminkan adanya pengoperasian siswa, posisi guru dan siswa dalam pengolahan pesan, pemerolehan kemampuan dalam pendekatan pembelajaran.

3.      Pendekatan teori psykologi dalam mengembangkan teori belajar dan pembelajaran dapat juga dilakukan dengan pembelajaran secara individual dan kelompok.Pembelajaran secara klasikal pengajaran peran guru dan siswa program pembelajaran, dan disiplin belajar yang berbeda – beda.

 

B.   SARAN

1.   Pendidik hendaknya dapat mengembangkan  keaktifan proses belajara mengajar dan pembelajaran dalam memanfaatkan teori psykologi,baik keaktifan megenai kegiatan guru, maupun keaktifan peserta didik.

3.   Untuk mengembangkan Pendekatan teori psykologi dalam mengembangkan teori belajar dan pembelajaran ini,sudah teantu guru harus membuat perencanaan dengan sebaik- baiknya dan melaksanakan pengajaran berdasarkan perencanaan yang telah dibuat tersebut.

 

About these ads

4 gagasan untuk “MANFAAT TEORI PSIKOLOGI, DALAM MENGEMBANGAKAN TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

  1. david Mei 22, 2009 pukul 8:55 am Reply

    bisa tulisan ko untuak tugas ma bang, wak copi se a,

    mokasiah banyak bang,
    eh masih di padang TV bang?

  2. yudhistira kamari April 17, 2011 pukul 1:29 pm Reply

    thanks buat infonya

  3. abie Desember 21, 2011 pukul 2:17 pm Reply

    tolong diberikan contoh dari aplikasi teori gestalt dan tujuh prinsip organisasi menurut kohler. trim’ ats jwbnnya.

    • abie Desember 21, 2011 pukul 2:54 pm Reply

      maksud saya, contoh dari pemahaman (insight) dan seterusnya dalam proses belajar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: