penilaian pada evaluasi siswa

Pada kawasan garapan teknologi pendidikan terdapat lima kawasan, antara lain desain, pengembangan, pemanfatan, pengelolaan, dan penilaian. Pada kawasan penilaian terdiri dari analisis masalah, pengukuran patokan, evaluasi formatif dan efaluasi sumatif. Hal ini menarik untuk dibicarakan, lantaran banyak terjadi salah persepsi dari kalangan guru dalam pengimplementasiannya.
Penilaian atau yang cenderung diistilahkan pada pengevaluasiaan merupakan bagian akhir dari sebuah proses pembelajaran. Jelas dalam penilaan banyak aspek yang perlu dipertimbangkan bagi seorang guru. Sehingga tak jarang kenyataan penilaian yang subjektif terjadi pada saat gur mengisi rapor siswa saat melakukan evaluasi tersebut.
Dalam pengevaluasiaan atau penilaian, kita mengenal yang namanya penilaian acuan patokan dan penilaian acuan norma. Dua cara penilaian ini terkadang tercampur aduk oleh guru dalam memberikan evaluasi terhadap siswa.
Penilaian acuan patokan secara definitif menurut barbara, meliputi teknik teknik untuk menentukan kemampuan pembelajar menguasai materi yang telah ditetntukan sebelumnya. Penilaian ini memberikan informasi tentang seseorang secara kognisi, afeksi dan psikomotornya. Namun secara gamblang penilaian acuan patokan ini, adalah nilai seseorang atau siswa apa adanya setelah dilakukan test. Contoh, dalam ujian seseorang memperoleh hasil 60, nilai tersebut merukan nilai yang mestinya di tuliskan pada lembaran evaluasi siswa/ rapor. Dalam pengembangannya penilaian acuan patokan didasarkan pada kisi-kisi dari setiap indikator pada kopetensi dasar. Dan test tersebut dikembangkan berdasarkan materi dan taksonomi, dan kebanyakan digunakan taksonomi blom yang terdiri dari enam tingkatan, selain itu mestinya yang akan di ukur atau dinilai adalah pelajaran yang diajarkan.
Penilaian acuan patokan ini diacukan pada aliran psikologi behaviorisme, yang merupakan aliran psikologi teretua yang hingga kini masih digunakan dan berdiri kokoh mengangkangi dunia pendidikan di indonesia. Karna penilaian mestinya mengukur apa yang dipelajari. Sifat dari aliran ini adalah stimulus respon, memberikan rangsangan terhadap siswa dan siswa akan memberikan refleksi terhadap rangsangan tersebut. Dan ini dinamakan dengan mengajar. Banyak para ahli berpendapat, aliran ini sangat cocok sekali dilakukan pada kelas kelas kecil, bukan pada kelas kelas besar seperti SLTP dan SLTA ataupun di bangku perkuliahan.
Penilian acua norma
Berbeda dengan penilaian acuan patokan, penilaian acuan norma ini, berdasarkan hasil yang dicapai seseorang, contoh dalam sebuah test yang terdiri dari 500 orang, tidak satupun yang mampu menyelesaikan soal dengan benar lebih dari setengah dari jumlah soal keseluruhan, dan tetap saja direngking berdasarkan nilai tertinggi, teknik penilaiaan ini cocok digunakan pada ujian masuk perguruan tinggi dan masuk pegawai negeri. Bukan diaplikasikan pada pemberian nilai pada siswa yang nota bene harus dituntut sebuah objektifitas.

Selain dua penilaian tersebut masih ada penilaian lainya seperti penilaian formatif dan sumatif, yang juga terjadi kesaahpahaman dalam pengpersepsian dan pengaplikasiannya. Penilaian formatif secara etimologi dapat diartikan penilianaan dalam rangka pembentukan atau penanda sejauh mana keberhasilan terserapnya sebuah materi oleh siswa, dan bisa saja dilakukan setiap minggu atau stiap indikator dan bisa juga setiap telah selesai satu kompetensi dasar. Dan penilaian formatif ini bukanlah unsur yang digunakan dalam penilaian saat pemberian nilai pada lembaran evaluasi atau rapor. Berbeda dengan penilaian sumatif, yang secara etimologi dapat diartikan nilai keseluruhan, penilian sumatif ini merupakan niulai hasil ujian semester atau ujian sumatif, yang dilaksanakan pad aakhir semester.
Dalam memberkan pengukuran ataupun tes pada penilaian formatif, mestinya dilakukan dengan relax atau tanpa ketegangan dari siswa, yang merasa takut menghadapi test tersebut, karna akan berpengaruh pada nilai akirnya nanti. Semacam trik khusus mestinya dimiliki guru agar pada saat melakukan test tersebut siswa tidak merasakan bahwa dirinya sedang dilakukan pengujian atau dikenal test secara tidak langsung. Karna rasa cemas menghadapi test juga berpengaruh terhadap kesiapan siswa dalam mengikuti test tersebut dan jelas berpengaruh terhadap hasil tes itu.

MANFAAT TEORI PSIKOLOGI, DALAM MENGEMBANGAKAN TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. LATAR BELAKANG

Cepatnya pekembangan ilmu pengetahuan, seakan terus mengingatkan kita untuk terus memacu diri untuk mendapatkan pengetahuan. Berkembangnya ilmu pengetahuan kini malah lebih cepat dari apa yang dibayangkan manusian. Hal hal yang dirasa tidak mungkin, kini malah tercipta, malah puluhan tahun lalu manusia telah berhasil menginjakan kaki ke bulan.

Setiap harinya pengetahuan baru bermunculan, dengan teori-teori yang terus dikembangan, begitu juga dengan teori belajar, yang mulai dikembangan sebelum abat 20 oleh plato, yang dikenal dengan teori disiplin mental, dimana dalam belajar mental seseorang harus dilatih sebelumnya. 

Dalam satu abad terakir, teori belajar berkembang pesat, mulai dar, teori belajar aliran behaviorisme, dengan tokonya skinner “operant conditioning”, teori belajar conditining of learning, robert m. Gagne, hingga teori beljar kognitif gestal  dimana menurut teori ini yang utama pada kehisupan manusia adalah knowing pengetauan/ bukan respon seperti teori behaviorisme.

Secara luas teori belajar selalu dikaitkan dengan ruang lingkup bidang psikologi,  karna bicara mengenai belajar kita akan menkaji tentang sosok manusia. Karna manusia memiliki akal untuk berfikir, berbeda degan binatang yang hanya bisa diberi pelajaran tetapi tidak menggunakan akal budi dan pikiranya. Ivan Petrovich Pavlov, ahli psikologi Rusia berpengalaman dalam melakukan serangkaian percobaan. Dalam percobaan itu ia melatih anjingnya untuk mengeluarkan air liur karena stimulus yang dikaitkan dengan makanan.  Proses belajar ini terdiri atas pembentukan asosiasi (pembentukan hubungan antara gagasan, ingatan atau kegiatan pancaindra) dengan makanan. Proses belajar yang digambarkan seperti itu menurut Pavlov terdiri atas pembentukan asosiasi antara stimulus dan respons refleksif.

Dasar penemuan Pavlov tersebut, menurut J.B. Watson diberi istilah behaviorisme. Proses pembelajaran itu bergerak dengan pandangan secara menyeluruh dari situasi menuju segmen (satuan bahasa yang diabstraksikan dari kesatuan wicara atau teks) bahasa tertentu. Materi yang disajikan mirip dengan metode dengar ucap.

Ada berbagai prinsip belajar yang dikemukan oleh para ahli psikologi seperti Thorndike mengemukakan, pendidikan terjadi dan diikuti dengan keadaan memuaskan maka hubungan itu diperkuat, Spread of effect yaitu emosional yang mengiringi kepuasan itu tidak terbatas kepada sumber utama pemberi kepuasan tetapi kepuasan mendapat pengetahuan baru, law of exercice yaitu hubungan antara perangsang dan reaksi diperkuat dengan latihan dan penguasaan, dan law of primacy yaitu hasil belajar yang diperoleh melalui kesan pertama akan sulit digoyahkan.

Beberapa prinsip atau kaidah dalam proses pembelajaran sebagai hasil eksperimen para ahli psikologi yang berlaku secara yaitu : motivasi, pembentukan, kemajuan dan keberhasilan proses belajar mengajar, feedback, response, trial and error , transfer dalam belajar dapat bersifat positif atau negatif dan proses belajar yang bersifat individual.

Berdasarkan hal tersebut, teori psikologi atau kejiwaan ini mempunyai kontribusi besar terhadap perkembangan teori-teori dari belajar dan pembelajaran.

 

  1. PERUMUSAN MASALAH

Teori psikologi yang banyak mengkajian akan sikap dan tindak tanduk manusia, sangant bermanfaat terhadap perkembangan teori belajar dan pembelajaran.  

Dari rumusan masalah diatas, makalah ini dibatasi oleh aspek-aspek sebagai berikut :

1.      Konsepsi teori psikologi

2.      Konsepsi teori belajar

3.      Implikasi pemanfaatan teori psikologi dalam mengembangkan teori belajar dan pembelajaran.

 

  1. TUJUAN DAN MANFAAT PENYUSUNAN MAKALAH

1.      Agar kita memahamai tentang teori psikologi

2.      Agar kita memahamai tentang teori belajar

3.      Mengetahui manfaat dan implikasi teori psikologi dalam perkembangan teori belajar dan pembelajaran.

Adapun penyusunan makalah ini bermanfaat secara:

a.          Teoretis, untuk mengkaji ilmu pendidikan khususnya dalam memahami manfaat teori psikologi dalam berkembangnya teori belajar dan pembelajaran.

b.      Praktis, bermanfaat bagi

1.      Para pendidik agar pendidik tidak salah persepsi tentang pendidikan, pembelajaran, dan pengajaran, serta dapat menerapkan prinsip-prinsip psokologi dalam melakukan pembelajaran

2.       Mahasiswa agar memahami tentang pengertian, prinsip, dan perkembangan teori psikologi dan teori belajar pembelajaran

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. TEORI PSIKOLOGI
  1.  
    1. Pengertian Psikologi

Secara harfiah psikologi terdiri dari dua suku kata psiko yang berarti jiwa dan logos berarti ilmu. Dapat didefenisikan sebgai ilmu tentang jiwa manusian. Dalam makalah ini penulis lebih mefokuskan pada konsep dan teori psikologi pendidikan. Menurut tadjab, Pendidikan tentang psikolog jiwa dan psikolog pendidikan yang terpendam dalam diri manusia yang akhirnya dapat melahirkan pola berperilaku, gerak dan lain sebagainya. Dengan demikian pergerakan, pertumbuhan dan perkembangan semua itu menjadi petunjuk gejala adanya jiwa pada manusia

Disini para filosof membagi jiwa menjadi

1.      Daya Vegetatif, bersifat tumbuh, berkembang sebagaimana tumbuh-tumbuhan ini disebut “nafs on nabati

2.      Daya Sensoris, ini bagi pemilik penginderaan, berpindah sebagaimana perilaku hewan disebut “nafs al hayawany

3.      Daya Rasional, yang khusus pemilik yang bersifat berfikir, berbuat, berkehendak sebagaimana khusus nampak pada jiwa manusia, dan disebut “nafs al insaniyah”

4.      Daya ruh, bersifat taat, patuh, tunduk, ini menggambarkan sosok malaikat.

Psikologi pendidikan adalah suatu stadi kejiwaan dari bidang pendidikan/studi dari bidang pendidikan yang akhirnya diarahkan untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi proses pendidikan dan pengajaran.

Beranjak dari filusofi jiwa ini sejumlah penelitian tentang gejala gejala prilaku manusia yang berkembang menjadi sebuah teori psikolagi yang banyak diadobsi oleh ilmuan pendidikan.

Jika menelaah literatur psikologi, kita akan menemukan banyak teori belajar yang bersumber dari aliran-aliran psikologi. Dalam tautan di bawah ini akan dikemukakan empat jenis teori belajar, yaitu: teori behaviorisme, teori belajar kognitif menurut Piaget teori pemrosesan informasi dari Gagne, dan teori belajar gestalt.

 

  1. TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

A.    Teori belajar

1.      Konsepsi

Menurut Di vesta dan Thomson (dalam ansyar, 1989, hal. 82) definisi belajar secara umum  adalah perubahan tingkah laku yang relative permanen sebagai hasil pengalaman. Salah satu perubahan tingkah laku dapat dilihat ketika seorang anak memperhatikan tingkah laku yang baru dati tingkah laku sebelumnya pada waktu tertentu. Namun tidak semua perubahan dapat disebut belajar, seperti proses pendewasaan dan perkembangan atau perubahan tingkah laku yang timbul karna faktor alam ( kecelakaan, penyakit).

Menurut Hilgard, Margins dan Kimble (dalam ansyar, 1989, hal. 83) belajar adalah perubahan tingkah laku yang realatif permanen sebagai respon terhadap potensi yang terjadi akibat latihan yang diprogramkan.

Menurut Gagne (dalam ansyar, 1989, hal. 82) adalah perubahan tingkah laku atau perobahan kemampuan manusia yang dapat bertahan dan yang bukan hasil pertumbuhan

2.      Teori behaviorisme

Behaviorisme merupakan salah aliran psikologi yang memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek – aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu.

.

3.      Teori Belajar Kognitif menurut Piaget

Piaget merupakan salah seorang tokoh yang disebut-sebut sebagai pelopor aliran konstruktivisme. Salah satu sumbangan pemikirannya yang banyak digunakan sebagai rujukan untuk memahami perkembangan kognitif individu yaitu teori tentang tahapan perkembangan individu. Menurut Piaget bahwa perkembangan kognitif individu meliputi empat tahap yaitu :

                                                                    i.            Sensory motor

                                                                  ii.            Pre operational

                                                                iii.            Concrete operational dan

                                                                iv.            Formal operational.

4.      Pemrosesan informasi dari Gagne

Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.

Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu,

                                                                                i.            Motivasi

                                                                              ii.            Pemahaman

                                                                            iii.            Pemerolehan

                                                                            iv.            Penyimpanan

                                                                              v.            Ingatan kembali

                                                                            vi.            Generalisasi

                                                                          vii.            Perlakuan dan

                                                                        viii.            Umpan balik

5.      Teori belajar gestalt

Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti sebagai “bentuk atau konfigurasi”. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan. Menurut Koffka dan Kohler, ada tujuh prinsip organisasi yang terpenting yaitu :

                                                              i.            Hubungan bentuk dan latar (figure and gound relationship); yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. Penampilan suatu obyek seperti ukuran, potongan, warna dan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. Bila figure dan latar bersifat samar-samar, maka akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure.

                                                            ii.            Kedekatan (proxmity); bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu.

                                                          iii.            Kesamaan (similarity); bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan dipandang sebagai suatu obyek yang saling memiliki.

                                                          iv.            Arah bersama (common direction); bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu.

                                                            v.            Kesederhanaan (simplicity); bahwa orang cenderung menata bidang pengamatannya bentuk yang sederhana, penampilan reguler dan cenderung membentuk keseluruhan yang baik berdasarkan susunan simetris dan keteraturan; dan

                                                          vi.            Ketertutupan (closure) bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap

B.     TEORI PEMBELAJARAN

1.      Konsepsi

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.

Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia serta dapat berlaku di manapun dan kapanpun.

Pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, walaupun mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar supaya peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat mempengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seseorang peserta didik. Pengajaran memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan guru saja. Sedangkan pembelajaran juga menyiratkan adanya interaksi antara guru dengan peserta didik.

2.      Taksonomi Pembelajaran

Jalan lain untuk melihat pembelajaran adalah mealui pengkarakteran kapabilitas utama untu menjadi pembelajar. Tiga tipe pembelajaran telah di analisa dan di presentasikan diantaranya

a.       Kognitif

                                                                    i.            Pengetahuan (knowledge)

                                                                  ii.            Pemahaman (comprehension)

                                                                iii.            Aplikasi (application)

                                                                iv.            Analisis (Analysis)

                                                                  v.            Sintesis (Synthesis)

                                                                vi.            Evaluasi (Evaluation)

b.      Affektif

                                                                    i.            Penerimaan (Receiving)

                                                                  ii.            Tanggapan (responding)

                                                                iii.            Penghargaan (Valuing)

                                                                iv.            Pengorganisasian (organization)

                                                                  v.            Karakterisasi Berdasarkan Nilai-nilai (Characterization by a Value or Value Complex)

c.       Psikomototorik

                                                                    i.            Gerakan Refleks

                                                                  ii.            Basic Gerakan Pokok

                                                                iii.             Perceptual

                                                                iv.             Aktivitas secara fisik

                                                                  v.             Gerakan trampil

                                                                vi.            Nondiscursive komunikasi

 

C.    IMPLIKASI TEORI PSIKOLOGI DALAM PERKEMBANGAN TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

  1.  
    1. Implikasi toeri behaviorisme

Toeri behaviorisme ini lebih dikenal dengan teori stimulus respon.
Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari pendekatan behaviorisme ini, diantaranya.

                                                                 i.             Connectionism (S-R Bond) menurut Thorndike.

Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya:

a.       Law of Effect; artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan, maka hubungan Stimulus – Respons akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons, maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus- Respons

b.      Law of Readiness; artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit), dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.

c.       Law of Exercise; artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat, jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih.

                                                            ii.      Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov

Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya.

d.      Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.

e.       Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.

                                                          iii.            Operant Conditioning menurut B.F. Skinner

Dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar diantaranya.

b.      Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.

c.       Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.

              Reber (Muhibin Syah, 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning

                                                          iv.            Social Learning menurut Albert Bandura

Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya, Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Prinsip dasar belajar menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Melalui pemberian reward dan punishment, seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan

  1.  
    1. Implikasi teori

Dikemukakannya pula, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.
Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah

1.      Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.

2.      Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.

3.      Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.

4.      Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.

5.      Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya

  1.  
    1. Implikasi Teori

Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain :

1.      Pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa.

2.      Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.

3.      Perilaku bertujuan (pusposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.

4.      Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.

5.      Transfer dalam Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.

 

 

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

1.      Penrkembangan teori belajar dan pembelajaran banyak mmegadaptasi kaidah-kaidah dari falsafah teori psiikologi pendidikan. Meski relative sama, namaun teori yang dikembangan ilmuan pendidikan tersebut dalam peningkatkan kemampuan kognitif, afektif dan psykomotor siswa dalam pengolahan pesan sehingga tearcapai sasaran belajar.

2.      Pendekatan teori psykologi dalam mengembangkan teori belajar dan pembelajaran mencerminkan adanya pengoperasian siswa, posisi guru dan siswa dalam pengolahan pesan, pemerolehan kemampuan dalam pendekatan pembelajaran.

3.      Pendekatan teori psykologi dalam mengembangkan teori belajar dan pembelajaran dapat juga dilakukan dengan pembelajaran secara individual dan kelompok.Pembelajaran secara klasikal pengajaran peran guru dan siswa program pembelajaran, dan disiplin belajar yang berbeda – beda.

 

B.   SARAN

1.   Pendidik hendaknya dapat mengembangkan  keaktifan proses belajara mengajar dan pembelajaran dalam memanfaatkan teori psykologi,baik keaktifan megenai kegiatan guru, maupun keaktifan peserta didik.

3.   Untuk mengembangkan Pendekatan teori psykologi dalam mengembangkan teori belajar dan pembelajaran ini,sudah teantu guru harus membuat perencanaan dengan sebaik- baiknya dan melaksanakan pengajaran berdasarkan perencanaan yang telah dibuat tersebut.

 

Perumusan Tujuan

1_227280785m

MERUMUSKAN TUJUAN INSTRUKSIONAL

Tujuan Instruksional Khusus merupakan lanjutan dari tahap-tahap pengembangan instraksional yang diawali dari mengidentifikasi kebutuhan instruksional dan menulis tujuan Instruksional Umum (TIU) dan menulis tujuan instraksional umum ,selanjutnya melakukan analisis instraksional dan mengidentifikasi prilaku karakteristik awal siswa . Sell(1998) hal yang pertama dilakukan dalam menulis tujuan adalah mengidentifikasi ranah pelajaran ,setelah itu mendemonstrasikan tingkah laku yang akan dicapai melalui penggunaan kata yang tepat sehingga jelas pemaparannya dan dapat diukur.

  1. Pengertian Tujuan Instruksional Khusus

Perumusan TIK merupakan suatu titik permulaan dalam proses pengembangan instruksional. TIK merupakan satu dasar dalam penyusunan kisi – kisi teks. Untuk dapat mengembangkan kisi – kisi soal dengan jelas maka TIK juga harus dirumuskan secara jelas.

Menurut Dick dan Carey (1985) telah mengulas bagaimana Robert Mager mempengaruhi dunia pendidikan khususnya di Amerika untuk merumuskan TIK dengan sebuah kalimat yang jelas dan pasti serta dapat diukur. Perumusan tersebut berarti TIK diungkapkan secara tertulis dan diinformasikan kepada siswa atau mahasiswa dan pengajar mempunyai pengertian yang sama tentang apa yang tercantum dalam TIK.

Perumusan TIK harus dilakukan secara pasti artinya pengertian yang tercantum di dalamnya hanya mengandung satu pengertian dan tidak dapat ditafsirkan kepada bentuk lain. Untuk itu TIK harus dirumuskan ke dalam kata kerja yang dapat dilihat oleh mata.

Tujuan instruksional dapat menjadi arah proses pengembangan instrusional karena di dalamnya tercantum rumusan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang akan dicapai mahasiswa pada akhir proses instruksional. Keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan tersebut merupakan ukuran keberhasilan sistim instruksional yang digunakan oleh pengajar

Berdasarkan apa yang telah dikemukakan diatas maka TIK merupakan suatu rumusan yang menjelaskan yang menjelaskan apa yang ingin dicapai, atau menjelaskan perubahan yang terjadi sebagai akibat dari apa yang dipelajari oleh siswa.

  1. Merumuskan Tujuan Instruksional Khusus

Tujuan instruksional khusus (TIK) antara lain digunakan untuk menyusun tes oleh karena itu TIK harus mengandung unsur – unsur yang dapat memberikan petunjuk kepada penyusun tes agar dapat mengembangkan tes yang benar – benar dapat mengukur perilaku yang berada di dalamnya.

Dalam merumuskan TIK dapat dilakukan dengan menggunakan dua format yaitu format Mager dan ABCD format.

1. Format Merger

Merger merekomendasikan syarat – syarat untuk menentukan tujuan perilaku yang ingin dicapai dalam kegiatan pembelajaran.

a. Mengidentifikasi tingkah laku terakhir yang ingin dicapai oleh pembelajar

b. Menentukan dalam kondisi bagaimana tingkah laku tersebut dapat dicapai

c. Membuat kriteria spesifik bagaimana tingkah laku tersebut dapat diterima

Uraian di atas menunjukan bahwa Merger mengemukakan tujuan tersebut dirumuskan dengan menentukan bagaimana pembelajar harus melakukannya, bagaimana kondisinya, serta bagaimana mereka akan melakukannya. Dalam penjabaran TIK ini Merger melibatkan tiga aspek yaitu begaimana kondisi pencapaian tujuan, kriteria yang ingin dicapai, serta bagaimana tingkah laku pencapaiannya.

Merger mendiskripsikan audiense hanya sebagai murid atau pembelajar, dengan menggunakan sebuah format ”kamu akan bisa untuk”. Para desain pembelajaran yang menggunakan format Marger ini biasanya menggunakan ”SWABAT” yang berarti ”the student will be able to”.

2. Format ABCD

Format ABCD digunakan oleh Institusi Pengembangan Pembelajaran, pada prinsipnya format ini sama dengan yang dikemukakan oleh Marger, namun pada bagian ini menambahkan dengan mengidentifikasi audiense, atau subjek pembelajar. Unsur – unsur tersebut dikenal dengan ABCD yang berasal dari empat kata sebagai berikut :

A = Audience

B = Behaviour

C = Condition

D = Degree

a. Audience

Audience merupakan siswa atau mahasiswa yang akan belajar, dalam hal ini pada TIK perlu dijelaskan siapa mahasiswa atau siswa yang akan belajar. Keterangan tentang siswa yang akan belajar tersebut harus dijelaskan secara spesifik mungkin, agar seseorang yang berada di luar populasi yang ingin mengikuti pelajaran tersebut dapat menempatkan diri seperti siswa atau mahasiswa yang menjadi sasaran dalam sistim instruksional tersebut.

b. Behavior

Behavior merupakan prilaku yang spesifik yang akan dimunculkan oleh mahasiswa atau siswa tersebut setelah selesai mengikuti proses belajar tersebut . Perilaku ini terdiri dari dua bahgian penting yaitu kata kerja dan objek. Kata kerja ini menunjukkan bagaimana siswa mendemonstrasikan sesuatu seperti menyebutkan,menjelaskan,menganalisis dan lainnya. Sedangkan objek menunjukkan apa yang didemonstrasikan.

c. Condition

Condition berarti batasan yang dikenakan kepada mahasiswa atau alat yang digunakan mahasiswa ketika ia tes.Kondisi ini dapat memberikan gambaran kepada pengembang tes tentang kondisi atau keadaan bagaimana siswa atau mahasiswa diharapkan dapat mendemonstrasikan perilaku saat ini di tes,misalnya dengan menggunakan rumus tertentu atau kriteria tertentu.

d. Degree

Degree merupakan tingkat keberhasilan mahasiswa dalam mencapai perilaku tersebut, adakalanya mahasiswa diharapkan dapat melakukan sesuatu dengan sempurna tampa salah dalam waktu dua jam dan lainnya. Sejumlah rumusan ABCD dalam penerapannya terkadang tidak disusun secara ber urutan namun dapat dibalik-balikkan . Dalam praktek sehari-hari perumusan TIK terkadang hana mencantumkan dua komponen saja , yaitu A dan B sehingga ketika diukur tidak memiliki kepastian dalsam menyusun tes.

Contoh rumusan TIK

Dengan menggunakan kriteria tertentu mahasiswa jurusan Teknologi Pendidikan semester I dapat menganalisis berbagai modul Desain Instraksional paling sedikit 80 % benar

e. Hubungan TIK dengan isi pelajaran

Dengan merumuskan TIK maka dapat didefenisikan isi pelajaran yang akan diajarkan.Rumusan TIK mengandung 8 unsur prilaku yang diharapkan dapat dicapai siswa pada akhir pembelajaran. Rumusan prilaku tersebut terdiri dari dua hal yaitu kata kerja dan objek, ini lah yang menunjukkan topik atau pokok bahasan dan isi pelajaran. Setiap topik tersebut dapat diuraikan menjadi sub topik dan seterusnya.