Perumusan Tujuan

1_227280785m

MERUMUSKAN TUJUAN INSTRUKSIONAL

Tujuan Instruksional Khusus merupakan lanjutan dari tahap-tahap pengembangan instraksional yang diawali dari mengidentifikasi kebutuhan instruksional dan menulis tujuan Instruksional Umum (TIU) dan menulis tujuan instraksional umum ,selanjutnya melakukan analisis instraksional dan mengidentifikasi prilaku karakteristik awal siswa . Sell(1998) hal yang pertama dilakukan dalam menulis tujuan adalah mengidentifikasi ranah pelajaran ,setelah itu mendemonstrasikan tingkah laku yang akan dicapai melalui penggunaan kata yang tepat sehingga jelas pemaparannya dan dapat diukur.

  1. Pengertian Tujuan Instruksional Khusus

Perumusan TIK merupakan suatu titik permulaan dalam proses pengembangan instruksional. TIK merupakan satu dasar dalam penyusunan kisi – kisi teks. Untuk dapat mengembangkan kisi – kisi soal dengan jelas maka TIK juga harus dirumuskan secara jelas.

Menurut Dick dan Carey (1985) telah mengulas bagaimana Robert Mager mempengaruhi dunia pendidikan khususnya di Amerika untuk merumuskan TIK dengan sebuah kalimat yang jelas dan pasti serta dapat diukur. Perumusan tersebut berarti TIK diungkapkan secara tertulis dan diinformasikan kepada siswa atau mahasiswa dan pengajar mempunyai pengertian yang sama tentang apa yang tercantum dalam TIK.

Perumusan TIK harus dilakukan secara pasti artinya pengertian yang tercantum di dalamnya hanya mengandung satu pengertian dan tidak dapat ditafsirkan kepada bentuk lain. Untuk itu TIK harus dirumuskan ke dalam kata kerja yang dapat dilihat oleh mata.

Tujuan instruksional dapat menjadi arah proses pengembangan instrusional karena di dalamnya tercantum rumusan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang akan dicapai mahasiswa pada akhir proses instruksional. Keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan tersebut merupakan ukuran keberhasilan sistim instruksional yang digunakan oleh pengajar

Berdasarkan apa yang telah dikemukakan diatas maka TIK merupakan suatu rumusan yang menjelaskan yang menjelaskan apa yang ingin dicapai, atau menjelaskan perubahan yang terjadi sebagai akibat dari apa yang dipelajari oleh siswa.

  1. Merumuskan Tujuan Instruksional Khusus

Tujuan instruksional khusus (TIK) antara lain digunakan untuk menyusun tes oleh karena itu TIK harus mengandung unsur – unsur yang dapat memberikan petunjuk kepada penyusun tes agar dapat mengembangkan tes yang benar – benar dapat mengukur perilaku yang berada di dalamnya.

Dalam merumuskan TIK dapat dilakukan dengan menggunakan dua format yaitu format Mager dan ABCD format.

1. Format Merger

Merger merekomendasikan syarat – syarat untuk menentukan tujuan perilaku yang ingin dicapai dalam kegiatan pembelajaran.

a. Mengidentifikasi tingkah laku terakhir yang ingin dicapai oleh pembelajar

b. Menentukan dalam kondisi bagaimana tingkah laku tersebut dapat dicapai

c. Membuat kriteria spesifik bagaimana tingkah laku tersebut dapat diterima

Uraian di atas menunjukan bahwa Merger mengemukakan tujuan tersebut dirumuskan dengan menentukan bagaimana pembelajar harus melakukannya, bagaimana kondisinya, serta bagaimana mereka akan melakukannya. Dalam penjabaran TIK ini Merger melibatkan tiga aspek yaitu begaimana kondisi pencapaian tujuan, kriteria yang ingin dicapai, serta bagaimana tingkah laku pencapaiannya.

Merger mendiskripsikan audiense hanya sebagai murid atau pembelajar, dengan menggunakan sebuah format ”kamu akan bisa untuk”. Para desain pembelajaran yang menggunakan format Marger ini biasanya menggunakan ”SWABAT” yang berarti ”the student will be able to”.

2. Format ABCD

Format ABCD digunakan oleh Institusi Pengembangan Pembelajaran, pada prinsipnya format ini sama dengan yang dikemukakan oleh Marger, namun pada bagian ini menambahkan dengan mengidentifikasi audiense, atau subjek pembelajar. Unsur – unsur tersebut dikenal dengan ABCD yang berasal dari empat kata sebagai berikut :

A = Audience

B = Behaviour

C = Condition

D = Degree

a. Audience

Audience merupakan siswa atau mahasiswa yang akan belajar, dalam hal ini pada TIK perlu dijelaskan siapa mahasiswa atau siswa yang akan belajar. Keterangan tentang siswa yang akan belajar tersebut harus dijelaskan secara spesifik mungkin, agar seseorang yang berada di luar populasi yang ingin mengikuti pelajaran tersebut dapat menempatkan diri seperti siswa atau mahasiswa yang menjadi sasaran dalam sistim instruksional tersebut.

b. Behavior

Behavior merupakan prilaku yang spesifik yang akan dimunculkan oleh mahasiswa atau siswa tersebut setelah selesai mengikuti proses belajar tersebut . Perilaku ini terdiri dari dua bahgian penting yaitu kata kerja dan objek. Kata kerja ini menunjukkan bagaimana siswa mendemonstrasikan sesuatu seperti menyebutkan,menjelaskan,menganalisis dan lainnya. Sedangkan objek menunjukkan apa yang didemonstrasikan.

c. Condition

Condition berarti batasan yang dikenakan kepada mahasiswa atau alat yang digunakan mahasiswa ketika ia tes.Kondisi ini dapat memberikan gambaran kepada pengembang tes tentang kondisi atau keadaan bagaimana siswa atau mahasiswa diharapkan dapat mendemonstrasikan perilaku saat ini di tes,misalnya dengan menggunakan rumus tertentu atau kriteria tertentu.

d. Degree

Degree merupakan tingkat keberhasilan mahasiswa dalam mencapai perilaku tersebut, adakalanya mahasiswa diharapkan dapat melakukan sesuatu dengan sempurna tampa salah dalam waktu dua jam dan lainnya. Sejumlah rumusan ABCD dalam penerapannya terkadang tidak disusun secara ber urutan namun dapat dibalik-balikkan . Dalam praktek sehari-hari perumusan TIK terkadang hana mencantumkan dua komponen saja , yaitu A dan B sehingga ketika diukur tidak memiliki kepastian dalsam menyusun tes.

Contoh rumusan TIK

Dengan menggunakan kriteria tertentu mahasiswa jurusan Teknologi Pendidikan semester I dapat menganalisis berbagai modul Desain Instraksional paling sedikit 80 % benar

e. Hubungan TIK dengan isi pelajaran

Dengan merumuskan TIK maka dapat didefenisikan isi pelajaran yang akan diajarkan.Rumusan TIK mengandung 8 unsur prilaku yang diharapkan dapat dicapai siswa pada akhir pembelajaran. Rumusan prilaku tersebut terdiri dari dua hal yaitu kata kerja dan objek, ini lah yang menunjukkan topik atau pokok bahasan dan isi pelajaran. Setiap topik tersebut dapat diuraikan menjadi sub topik dan seterusnya.

One thought on “Perumusan Tujuan

  1. udin dalang November 28, 2008 pukul 2:12 pm Reply

    PadiaH Boyyyyyyyy!!!!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: