penilaian pada evaluasi siswa

Pada kawasan garapan teknologi pendidikan terdapat lima kawasan, antara lain desain, pengembangan, pemanfatan, pengelolaan, dan penilaian. Pada kawasan penilaian terdiri dari analisis masalah, pengukuran patokan, evaluasi formatif dan efaluasi sumatif. Hal ini menarik untuk dibicarakan, lantaran banyak terjadi salah persepsi dari kalangan guru dalam pengimplementasiannya.
Penilaian atau yang cenderung diistilahkan pada pengevaluasiaan merupakan bagian akhir dari sebuah proses pembelajaran. Jelas dalam penilaan banyak aspek yang perlu dipertimbangkan bagi seorang guru. Sehingga tak jarang kenyataan penilaian yang subjektif terjadi pada saat gur mengisi rapor siswa saat melakukan evaluasi tersebut.
Dalam pengevaluasiaan atau penilaian, kita mengenal yang namanya penilaian acuan patokan dan penilaian acuan norma. Dua cara penilaian ini terkadang tercampur aduk oleh guru dalam memberikan evaluasi terhadap siswa.
Penilaian acuan patokan secara definitif menurut barbara, meliputi teknik teknik untuk menentukan kemampuan pembelajar menguasai materi yang telah ditetntukan sebelumnya. Penilaian ini memberikan informasi tentang seseorang secara kognisi, afeksi dan psikomotornya. Namun secara gamblang penilaian acuan patokan ini, adalah nilai seseorang atau siswa apa adanya setelah dilakukan test. Contoh, dalam ujian seseorang memperoleh hasil 60, nilai tersebut merukan nilai yang mestinya di tuliskan pada lembaran evaluasi siswa/ rapor. Dalam pengembangannya penilaian acuan patokan didasarkan pada kisi-kisi dari setiap indikator pada kopetensi dasar. Dan test tersebut dikembangkan berdasarkan materi dan taksonomi, dan kebanyakan digunakan taksonomi blom yang terdiri dari enam tingkatan, selain itu mestinya yang akan di ukur atau dinilai adalah pelajaran yang diajarkan.
Penilaian acuan patokan ini diacukan pada aliran psikologi behaviorisme, yang merupakan aliran psikologi teretua yang hingga kini masih digunakan dan berdiri kokoh mengangkangi dunia pendidikan di indonesia. Karna penilaian mestinya mengukur apa yang dipelajari. Sifat dari aliran ini adalah stimulus respon, memberikan rangsangan terhadap siswa dan siswa akan memberikan refleksi terhadap rangsangan tersebut. Dan ini dinamakan dengan mengajar. Banyak para ahli berpendapat, aliran ini sangat cocok sekali dilakukan pada kelas kelas kecil, bukan pada kelas kelas besar seperti SLTP dan SLTA ataupun di bangku perkuliahan.
Penilian acua norma
Berbeda dengan penilaian acuan patokan, penilaian acuan norma ini, berdasarkan hasil yang dicapai seseorang, contoh dalam sebuah test yang terdiri dari 500 orang, tidak satupun yang mampu menyelesaikan soal dengan benar lebih dari setengah dari jumlah soal keseluruhan, dan tetap saja direngking berdasarkan nilai tertinggi, teknik penilaiaan ini cocok digunakan pada ujian masuk perguruan tinggi dan masuk pegawai negeri. Bukan diaplikasikan pada pemberian nilai pada siswa yang nota bene harus dituntut sebuah objektifitas.

Selain dua penilaian tersebut masih ada penilaian lainya seperti penilaian formatif dan sumatif, yang juga terjadi kesaahpahaman dalam pengpersepsian dan pengaplikasiannya. Penilaian formatif secara etimologi dapat diartikan penilianaan dalam rangka pembentukan atau penanda sejauh mana keberhasilan terserapnya sebuah materi oleh siswa, dan bisa saja dilakukan setiap minggu atau stiap indikator dan bisa juga setiap telah selesai satu kompetensi dasar. Dan penilaian formatif ini bukanlah unsur yang digunakan dalam penilaian saat pemberian nilai pada lembaran evaluasi atau rapor. Berbeda dengan penilaian sumatif, yang secara etimologi dapat diartikan nilai keseluruhan, penilian sumatif ini merupakan niulai hasil ujian semester atau ujian sumatif, yang dilaksanakan pad aakhir semester.
Dalam memberkan pengukuran ataupun tes pada penilaian formatif, mestinya dilakukan dengan relax atau tanpa ketegangan dari siswa, yang merasa takut menghadapi test tersebut, karna akan berpengaruh pada nilai akirnya nanti. Semacam trik khusus mestinya dimiliki guru agar pada saat melakukan test tersebut siswa tidak merasakan bahwa dirinya sedang dilakukan pengujian atau dikenal test secara tidak langsung. Karna rasa cemas menghadapi test juga berpengaruh terhadap kesiapan siswa dalam mengikuti test tersebut dan jelas berpengaruh terhadap hasil tes itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: