Kurikulum Pendidikan

TEORI BELAJAR

Pengantar
Pada dasarnya, secara sederhana dapat dikatakan bahwa kurikulum adalah rencana untuk membelajarkan pelajar. Sebab itu, isu tentang kurikulum merupakan pengetahuan terntang manuasia serta hakiakatnya proses belajar. Pengetahuan tersebut mencakup pengetahuan tentang, bagaimana manusia belajar, kondisi apa saja yang mendorong belajar, keadaan apa pula yang dapat menghambat belajar. Oleh karena itu, pengetahuan atau konsep tentang hakikat belajar akan berpengaruh terhadap kurikulum.
Konsepsi belajar
Menurut Di vesta dan Thomson (dalam ansyar, 1989, hal. 82) definisi belajar secara umum adalah perubahan tingkah laku yang relative permanen sebagai hasil pengalaman. Salah satu perubahan tingkah laku dapat dilihat ketika seorang anak memperhatikan tingkah laku yang baru dati tingkah laku sebelumnya pada waktu tertentu. Namun tidak semua perubahan dapat disebut belajar, seperti proses pendewasaan dan perkembangan atau perubahan tingkah laku yang timbul karna factor alam ( kecelakaan, penyakit).

Menurut Hilgard, Margins dan Kimble (dalam ansyar, 1989, hal. 83) belajar adalah perubahan tingkah laku yang realatif permanen sebagai respon terhadap potensi yang terjadi akibat latihan yang diprogramkan.

Menurut Gagne (dalam ansyar, 1989, hal. 82) adalah perubahan tingkah laku atau perobahan kemampuan manusia yang dapat bertahan dan yang bukan hasil pertumbuhan.

TIPE-TIPE BALAJAR
Secara literature tentang teori teori belajar, terungkap belajar tidak hanya sangat komplek tapi juga bermacam macam. Menurut zais (dalam ansyar, 1989, hal. 84) ada beberapa macam belajar yaitu:
Anak kecil belajar bicara
Anak sekolaj menghafalkan pancasila
Anak teknik memakai mesin pemotong kayu
Pecinta music belajar menyenangi music elektronik
Seorang ilmuwan memahami suatu yang ditemuinya dalam risetnya sendiri.
TINJAUAN RINGKAS TEORI BELAJAR
Ada dua mazhap teori belajr yang berbeda dan bertentangan:
Psikologi Fakultas
Menurut teori ini, siswa atau murid terdiri dari kekuatan atau pikiran yang berbeda, diantarnya adalah intelektual atau berpikir, perasaan, dan keinginan.
Menurut para ahli siswa terdiri dari banyak fakultas seperti persepsi indra, observasi, kesadaran, persepsi benda itu sendiri, ingata, fantasi, imajinasi konsepsi pertimbangan dan pikiran( Thut dalam ansyar, 1989, hal 85). Setiap fakultas,yang berlokasi pasa suatu daerah tertentu di dalam otak manusia, dapat diperkuat dengan latiihan-latihan dan cara-cara disiplin mental.
Dengan menghafalkan sajak-sajak, perkalian dan infleksi kata-kata dapat meperkuat ingatan apalagi kalau latihan tersebut sukar dan tidak menarik hati anak.
Menurut aliran ini, dengan dikembangkannya intelektual, keinginan, pikiran dan imaginasi dan lain-lain, persiapan unutk kehidupan manusia sudah dipenuhi karena menurut mereka, semua kemampuan itu dapat ditransfer kepada aspek kehidupan anak.

Asisialisme Klasikal
a. Teori Asosiasi
Sering disebut dengan teori rangsang jawab atau stimulus responatau teori penguatan.
Teori ini muncul pada akhir abat 19 ketiaka ahli ilmu jiwa ekperimental yang bersifat immaterial melalui asosiasi. Pengalaman mental sebenanrya kegiatan neorologis akibat rangsangan eksternal atau asosiasi yang bersumber pada system kejiawaan yang timbul sebagai hasil kontak terdahulu dengan rangsangan. Ini berarti bahwa kegiatan manusia diatur oleh asosiasi antara ransangan dengan jawaban.
Bentuk rangasangan terbagi menjadi tiga kegitan organism:
Situasi rangsangan
Rangasangan organism terhadap situasi
Koneksi antar rangsangan
Menurut teori asosiasi, pementukan ikatan respon jawaban (R-J) timbul secara berangsur angssur melalui proses coba-coba (trial and error), yaitu organisme manusia menjawab rangsangan dengan cara memuaskan dirinya berulang ulang sampai jawaban yang memuaskan menjadi kebiasaan, sedangkan jawaban yang salah ditinggalkan. Dalam artian penyokong teori ini menganggap bahwa belajar merupakan proses coba-coba.
Teori ini mengemukakan bahwa pembentukan kebiasaan yaitu ikatan rangsang- jawab yang kuat, timbul sebagai akibat dari kondisi. Pengaruh teori ini sangat besar pada laboratorium dan kelas-kelas. Kondisi yang diciptakan melalui penguatan yang sesuai ketika jawaban yang benar diberikan akan menimbulkan rangsangan yang menurut teori asosiasi ini , menimbulakan belajar.

b. Teori lapangan
Menurut teori lapangan, belajar merupakan restrukturisasi dan integrasi keseluruhan suasan lapangan yang menghasilkan pemahaman. Teori ini didasarkan pada eksperimen kohler terhadap keranya yang mampu mengambil pisang dalam sangkarnya ketika kera berdiri diatas kotak yang diletak agak jauh dari sarangnya. Eksperimen itu dilakukan selama perang dunia pertama.
Praktek pendidikan yang berdasarkan teori-teori lapangan ini cenderung berupa sekolah-sekolah beraliran progresif, yang lebih banyak berpusat pada siswa, berbeda dengan teori asosiasi yang mempertahankan sekolah yang berpusat pada guru.

IMPLIKASI KURIKULUM
Kurikulum yang berpijak pada prinsip teori lapangan sangat berbeda dengan yang bertumpu padan teori asosiasi. Teori lapangan menganggap bahwa kesenangan menemukan sesuatu yang baru merupakan sesuatu yang menyenangkan sehingga dapat mendorong timbulnya motivasi untuk belajar sendiri. Keadaan ini berbeda dengan teori asisiasi yang menganggap bahwa dorongan dari luar diperlukan untuk munculnya motivasi pelajar untuk memperoleh ikatan rangsan-jawab yang diinginkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: